Oleh Heriansyah / NIM 19701261017
Pendahuluan
Membahas hakikat pendidikan Muhammadiyah tidak
terlepas dari filsafat yang melatarbalakanginya baik filsafat Islam sebagai
landasan idiologis Muhammadiyah maupun filsafat pendidikan sebagai landasan
praksis gerakan pendidikan Muhammadiyah. Secara ontologis agama (Islam) dan
filsafat tentu berbeda, agama diyakini dan diamalkan oleh pemeluknya berasal
dari Tuhan, sedangkan filsafat berasal dari pikiran manusia. Tetapi filsafat
dapat berfungsi sebagai supporting factor
bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas beragamanya (Marsigit, 2013).
Oleh karena itu, membahas pendidikan Muhammadiyah sebagai pendidikan Islam
melalui pendekatan filosofis dapat membantu seseorang untuk memahami konsep
dasar dan utama dari pendidikan Muhammadiyah.
Membahas pendidikan Muhammadiyah secara filosofis
tidak dapat dilepaskan dari tiga aspek yaitu teori pembaharuan Islam, teori
pembaharuan pendidikan Islam, dan teori Filsafat Pendidikan Progresivisme.
Teori pembaharuan Islam digunakan melihat pengaruh gerakan pembaruan dunia Islam
terhadap munculnya pemikiran-pemikiran pembaruan pendidikan Islam dan
pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan Islam modern di tanah air. Teori
pembaruan pendidikan Islam digunakan untuk melihat latar belakang pendidikan
Islam sehingga memunculkan pemikiran-pemikiran pembaruan pendidikan
Muhammadiyah (K.H. Ahmad Dahlan). Filsafat Pendidikan Progresivisme digunakan
untuk meninjau konsep pemikiran pembaruan pendidikan Muhammadiyah berdasarkan
problematika yang relevan.
Gerakana Pembaharuan Islam
Teori pembaharuan Islam diawali dengan sejarah
gerakan revivalisme Islam yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan
gerakan Wahabi (Sadzali, 1993). Menurut Charles Kurzman (2001), gerakan Wahhabi
di Arab Saudi telah menginspirasi kelahiran tokoh-tokoh revivalis dalam dunia
Islam. Di Afrika Barat dipelopori oleh Syaikh Jibril ibn Umar al-Maqdisi, di
Asia Selatan muncul gerakan revivalis oleh Haji Syari’at Allah dan Ahmad
Barelwi, di Indonesia (Sumatra Barat), gerakan ini dipelopori oleh Haji Miskin
(tokoh Padri). Gerakan revivalisme Islam dilanjutkan dengan gerakan modernisme
Islam pada pertengahan abad 19 dan memasuki abad 20 di Mesir yang dilakukan
oleh adalah Jamaluddin al-Afghani (1839-1897), Muhammad ‘Abduh (1849-1905), dan
Rasyid Ridha (1865-1905). Muhammad ‘Abduh memfokuskan perjuangannya pada usaha
menyebarkan pemahaman Islam secara rasional.
Menurut Jainuri (2003), gerakan modernisme Muhammad
‘Abduh lebih berorientasi pada usaha meletakkan basis intelektual umat Islam
yang berdasarkan pada pemahaman Islam murni dengan menegaskan kembali hakekat
Islam dan implikasinya bagi kehidupan masyarakat modern melalui jalur
pendidikan dan pengajaran. Dia berkonsentrasi melakukan reformasi sistem
pendidikan di Universitas al-Azhar.
Muhammadiyah dan Pembaharuan
Pendidikan Islam
Gerakan pembaharuan Islam berpengarauh kepada
gerakan pendidikan Islam di Indonesia. Di Sumatera Barat, pengikut paderi
diantara Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawy mendirikan madarasah modern dan di
Jawa dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan. Membicarakan pendidikan Muhammadiyah
tidak dapat dilepaskan dari pendiri Muhammadiyah. Ide dasar konsep pendidikan
yang dibangun oleh KH. Ahmad Dahlan pada zamannya adalah sebuah “quantum”
kemajuan yang sangat progresif. Dahlan ingin mengintegrasikan akal dan hati
nurani yang tidak sekedar penggabungan, tetapi teraduk dalam kesatuan yang
integral. Menurut Dahlan, seperti dituturkan oleh AR Fachruddin (1916-1994),
Ketua Umum Muhammadiyah (1974-1990) bahwa antara jiwa dan jasad haruslah
diselaraskan, yang kedua-keduanya membutuhkan pendidikan. Pendidikan haruslah
memenuhi segala keperluan manusia yang terdiri atas jiwa dan jasad, ruhani dan
jasmani. Jiwa membutuhkan agama agar dapat berhubungan langsung secara baik dan
benar kepada Allah Swt. Selanjutnya jasad perlu dipenuhi kebutuhannya agar
manusia bisa melaksanakan kehidupannya di dunia ini, guna membangun
peradabannya (Siddik, 2010).
Dahlan mampu
menggabungkan konsep pendidikan Barat plus pendidikan agama yang berorientasi
modern. Pada zaman Dahlan, sistem pendidikan mewujud dalam dua kutub ekstrim
yang sangat berlawanan. Di satu ujung, terdapat sistem pendidikan pesantren
yang sangat tradisional yang hanya mengajarkan agama dan hampir-hampir tidak
bersentuhan dengan keperluan hidup di dunia. Di pihak lain, terdapat sistem
pendidikan modern sekuler/Barat (penjajah) saat itu yang hanya mengajarkan ilmu
umum, mengabaikan sama sekali sisi agama. Keduanya tidak pula berjalan saling
membiarkan, tetapi saling merendahkan satu sama lainnya dan menumbuhkan
prasangka buruk di antara keduanya. Para santri mempersepsikan orang-orang yang
belajar di sekolah-sekolah Belanda adalah manusia sesat yang tidak Muslim lagi.
Sebaliknya, kalangan pelajar dari sekolah Belanda mempersepsikan para santri
adalah simbol keterbelakangan dan kebodohan karena pengetahuan para santri yang
terbatas pada ilmu-ilmu agama, yang dianggap tidak dapat membangun peradaban
yang maju. Dampak yang ditumbuhkannya tidak hanya sekedar terjadinya jurang
pemisah antara golongan Intelektual yang berlatar belakang pendidikan umum
dengan golongan ulama yang berlatar belakang pendidikan pesantren, tetapi lebih
dari itu yakni menimbulkan kekurang-pedulian kaum intelektual terhadap
persoalan agama, bahkan sebahagiannya cenderung memusuhi agama (Siddik, 2010).
Ahmad Dahlan melihat
kedua sistem tersebut sama-sama memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Sistem
yang pertama lemah lantaran menjadikan anak didiknya hanya ahli spiritual,
ukhrawi namun minus kecakapan, skill modern. Sedangkan yang kedua menjadikan
anak didik cakap dengan keterampilan duniawi namun buta akan persoalan agama. Padahal,
agama mensabdakan pentingnya menguasai baik ilmu dunia maupun ilmu agama.
Dahlan dengan sistem pendidikan integral; menggunakan model pendidikan Barat
dan pada saat bersamaan mengintrodusirnya dengan pengetahuan agama. Menjadi
Muslim yang baik tanpa perlu gagap dengan modernitas, sekaligus menjadi manusia
modern tanpa perlu kehilangan jati diri agama sehingga memiliki kontribusi bagi
kemajuan bangsanya.
Pemikiran
Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan yang kreatif adalah semangat pembaharuan (tajdid)
dalam memahami Alquran. Ahmad Dahlan berharap, pendidikan Muhammadiyah menjadi rahmatan
lil ‘âlamîn dan pemikiran Muhammadiyah siap menerima kontribusi dari semua
lapisan masyarakat. Pemikiran yang demikian dibangun dan dikembangkan dengan
bersumberkan pada wahyu, akal, ilham dan realitas sosial untuk mendukung
universalitas Islam sebagai petunjuk bagi manusia menuju kesalehan individual
dan kesalehan sosial. Akan tetapi pasca Ahmad Dahlan wafat dan memasuki era
revolusi industri 4.0, timbul beberapa masalah terkait pendidikan Muhammadiyah
yakni:
1.
Muhammadiyah
hanya bergelut untuk mempertahankan eksistensi yang menangkap hasil ijtihad
bidang pendidikan, bukan etos ijtihad yang diwariskan Dahlan. Pengelola organisasi pendidikan Muhammadiyah
lebih sering berhadapan dengan masalah-masalah teknis dari amal usaha pendidikan
yang didirikannya sehingga tujuan utama pendidikan Muhammadiyah terabaikan.
2.
Muhammadiyah
dalam banyak hal hanya meneruskan praktik-praktik pendidikan yang dilakukan
Dahlan tanpa pengembangan lebih lanjut, padahal lembaga pendidikan lain sudah
melakukan hal yang sama (pendidikan integratif) sehingga tidak ada lagi
perbedaan pendidikan di Muhammadiyah dengan gerakan lain.
3.
Era teknologi informasi
dan revolusi industri 4.0 merubah sifat manusia dalam berinteraksi di
masyarakat, menuntut perubahan pendidikan Muhammadiyah yang tidak sekedar
mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Pendidikan
Muhammadiyah harus mampu menjawab problematika sosial yang mampu mempertahankan
nilai-nilai dengan menguasai dunia digital.
4.
Muhammadiyah
merasa “mapan” dengan jumlah amal usaha pendidikan yang banyak dan besar
sehingga tidak berupaya melahirkan model
pendidikan Islam yang kreratif dan dibutuhkan era industri 4.0 sekarang.
Paradigma Pendidikan Muhammadiyah
Menuju Pendidikan Progresif
Pendidikan
tidak lepas dari lingkungan termasuk pengalaman yang ada di sekelilingnya. Pengalaman
menurut progressivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah
sampai pada yang paling ekstrim, serta pluralistis. Progressivisme merupakan
aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. John S.
Brubaeher, mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran
filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan
John Dewey (1885 1952), yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup
praktis.
Menurut
progressivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru
antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar
berfungsi untuk: mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.
Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang
setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Aliran ini berpendapat bahwa
pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang.
Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang
muatan.
Untuk
itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru
haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat
memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga
keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusia-manusia yang berkualitas
unggul, kompetitif, inisiatif, adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan
zamannya. Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman
atau kurikulum eksperimental, yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman, di
mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat
diterapkan dalam kehidupan nyatanya. Dengan metode pendidikan “Belajar Sambil
Berbuat” (Learning by doing) dan
pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem,
mengajukan hipotesa. Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa
pendidikan harus berpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau
bidang muatanProgresivist memandang bahwa “style of teaching” adalah komponen
penting dalam pendidikan. (Marsigit, 1996)
Tabel 1. Teori Pendidikan
Progresif John Dewey
Tujuan
|
Kurikulum
|
Subjek
Didik
|
Pendidik
|
Metode
|
Berkontribusi
pada kepribadian individu, sosial dan pertumbuhan masyarakat melalui
rekonstruksi pengalaman secara terus menerus
|
Mencipta
dan melakukan; Berbasis masalah
|
Aktif
dalam proses pembelajaran dan partisipatif
|
Menciptakan
lingkungan belajar berdasarkan pengalaman komunitas pembelajar
|
Problem
solving, metode ilmiah,metode projek
|
Sumber:
Dikembangkan dari Ornstein dan Levine,1989; McNerney, R.F dan Herbert J.M., 2001.
Tampak
filsafat progressivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju)
bertindak secara konstruktif, inovatif dan reformatif, aktif serta dinamis.
Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan.
Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja, akan tetapi
berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. Untuk mendapatkan
perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup
yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan,
tidak terikat oleh doktrin tertentu), curious (ingin mengetahui dan
menyelidiki), toleran dan open minded (punya hati terbuka). Umat manusia ada
dalam suatu keadaan yang berubah secara konstan, dan pendidikan memungkinkan
masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.
Pandangan ontologi progresivisme bertumpu pada
tiga hal yakni asas hereby (asas
keduniaan), pengalaman sebagai realita dan pikiran (mind) sebagai fungsi
manusia yang unik. Asas Hereby ialah adanya kehidupan realita yang amat luas
tidak terbatas sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan
manusia.
Pengalaman adalah kunci
pengertian manusia atas segala sesuatu. Manusia punya potensi pikiran (mind) yang berperan dalam pengalaman.
Eksistensi dan realita mind hanyalah di dalam aktivitas, dalam
tingkah laku. John Dewey mengatakan, pengalaman adalah key concept manusia atas
segala sesuatu. Pengalaman ialah suatu realita yang telah meresap dan membina
pribadi. Pengalaman menurut Progresivisme: Dinamis, hidup selalu dinamis,
menuntut adaptasi, dan readaptasi dalam semua variasi perubahan terus menerus,
Temporal (perubahan dari waktu ke waktu); Spatial yakni terjadi disuatu tempat
tertentu dalam lingkungan hidup manusia; Pluralistis yakni terjadi seluas
adanya hubungan dan antraksi dalam mana individu terlibat. Demikian pula subyek
yang mengalami pengalaman itu, menangkapnya, dengan seluruh kepribadiannya
degnan rasa, karsa, pikir dan pancainderanya. Sehingga pengalaman itu bersifat
pluralistis.
Pandangan epistemologi progresivisme ialah bahwa
pengetahuan itu informasi, fakta, hukum, prinsip, proses, dan kebiasaan
yang terakumulasi dalam pribadi sebagai proses interaksi dan pengalaman.
Pengetahuan diperoleh manusia baik secara langsung melalui pengalaman dan
kontak dengan segala realita dalam lingkungan, ataupun pengetahuan diperoleh
langsung melalui catatan-catatan. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu.
Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman
kita dalam praktik, maka makin besar persiapan kita menghadapi tuntutan masa
depan. Pengetahuan harus disesuaikan dan dimodifikasi dengan realita baru di
dalam lingkungan.
Dalam pandangan
progresivisme di bidang aksiologi ialah nilai timbul karena manusia mempunyai
bahasa, dengan demikian menjadi mungkin adanya saling hubungan. Jadi masyarakat
menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal
dari dorongan, kehendak, perasaan, kecerdasan dari individu-individu. Nilai itu
benar atau tidak benar, baik atau buruk apabila menunjukkan persesuaian dengan
hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan.
Daftar Pustaka
Brubacher, John.
S. (1950). Modern Philosophies of
Education. Second Edition. New York: Mcgraw-Hill
Khozin.
(2005) Menggugat Pendidikan Muhammadiyah, Malang: UMM Press
Kurzman, Charles
[ed]. (2001) Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer
Tentang Isu-isu Global. Jakarta: Paramadina
Maragustam. (2015). Paradigma
Holistik-Integratif-Interkonektif Dalam Filsafat Manajemen Pendidikan
Karakter. Jurnal Studi Agama dan
Masyarakat Volume11, Nomor 1, Juni 2015
Marsigit,
Pembenahan Gaya Mengajars (Teaching
Styles) sebagai Upaya Kualitas Pengajran Matematika, Cakrawala Pendidikan.
Nomor 3 Tahun XV November 1996
https://www.academia.edu/27850256/ KARAKTER_ISLAM_DALAM_SEJARAH_PERGULATAN_MEMPEREBUTKAN_KEKUASAAN_FILSAFAT_IDEOLOGI_ILMU_MATEMATIKA_DAN_PENDIDIKAN. Diakses
tanggal 20 November 2019
McNerney, R.F
dan Herbert J.M., (2001). Foundtion of Education: The challlange of Professional
Practice. Boston London Toronto: Allyn & Bacon
Nadlifah.
(2016). Muhammadiyah Dalam Bingkai Pendidikan Humanis (Tinjauan Psikologi
Humanistik). AL-BIDAYAH: Jurnal Pendidikan Dasar Islam Volume 8, Nomor 2,
Desember 2016
Nanuru, Ricardo
F. (2013). Progresivisme Pendidikan dan Relevansinya di Indonesia. Jurnal
UNIERA. Vol. 2, No. 2; Agustus 2013.
Ornstein dan
Levine (1989). Foundations of Education. Boston: Houghton Mifflin Company
Sadzali,
Munawir.(1993) Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta:
Universitas Indonesia Press
Siddik,
Dja’far. (2015) Filsafat Pendidikan Muhammadiyah. Asrul Daulay dan Ja’far
(edt.) Filsafat Pendidikan Islam. Perdana Publishing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar